“Memanipulasi” Tuhan?

“Kesunyian adalah esensi dari mistisme”

Wulff



Kita berharap banyak pada Tuhan. Melalui doa, puasa, dan sedekah kepada yang papa, kita berharap Tuhan menganugerahkan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada kita.



Berbagai peradaban di dunia sudah sejak dulu melakukan pemujaan kepada dewa-dewa, supaya mereka memperoleh kemakmuran dan kekuatan. Beberapa diantaranya bahkan melakukan pengorbanan manusia untuk mencapai cita-cita itu.



Akan tetapi, melalui ritual dan pemujaan itu, apakah kita pernah merasa sungguh dekat padaNya? Apakah melalui doa-doa dan sikap hidup kita, kita pernah merasakan kebersatuan denganNya? Atau justru, yang kita lakukan seringkali adalah “menyuap” Tuhan dengan doa dan sikap kita, supaya Ia memenuhi keinginan kita? Jangan-jangan, hubungan kita dengan Tuhan tak ubahnya seperti hubungan budak dengan majikannya, yang kerap kali tanpa kedekatan emosional dan ‘keintiman’ sama sekali?



Di dalam kajian psikologi agama, perasaan dekat dengan Tuhan itu ternyata adalah suatu perasaan psikis manusia yang bisa direkayasa sesuai kehendak, asal kita tahu cara yang tepat untuk melakukannya. Dengan kata lain, perasaan mistik, yakni perasaan dekat dan “intim” dengan Tuhan, bukanlah monopoli para orang kudus ataupun sufi, tetapi bisa diperoleh oleh siapapun tanpa pandang bulu!



Pertanyaannya lalu, bagaimana kita melakukannya? David M. Wulff, seorang ahli psikologi agama, berpendapat bahwa ada beberapa cara spesifik yang bisa ditempuh, yakni berpuasa, mengurangi waktu tidur, mengisolasikan diri dari dunia sosial, dan mengatur napas secara tepat.
Mencapai Pengalaman Religius



Dengan berpuasa, orang bisa mengatur dorongan badaniahnya. Ia bisa melatih diri untuk menahan dorongan survival manusia yang paling dasar, dan kemudian memperoleh pengalaman religius.



Berbagai tradisi religius di dunia memiliki ragam tradisi puasa yang juga berbeda. Akan tetapi, esensi dari semuanya adalah, bahwa manusia harus dapat berkorban untuk mencapai kebahagiaan yang paling otentik, yakni pengalaman mistik bersatu dengan Tuhan.



Cara kedua untuk memperoleh pengalaman religius adalah dengan mengurangi waktu tidur. Di banyak tradisi religius besar di dunia, cara ini dianggap sebagai persiapan yang paling ideal untuk memulai suatu ritual khusus yang bersifat religius.



Mengurangi waktu tidur juga dianggap sebagai bagian dari displin asketik yang mungkin dilakukan manusia, yakni suatu cara mendisplinkan diri untuk memperoleh keutamaan-keutamaan moral ataupun religius. Beberapa mistikus Kristen, seperti Saint Peter dari Alcantara, Therese Neumann, dan Catherine dari Siena, konon hanya tidur satu jam sehari.



Cara ketiga untuk memperoleh pengalaman religius atau pengalaman mistik adalah dengan mengisolasikan diri dari dunia sosial. Dunia sosial, yang penuh dengan kesibukan dan hiruk pikuk peradaban, dianggap mengganggu relasi manusia dengan Tuhan, oleh karena itu, dunia sosial haruslah ditinggalkan.



Seperti kedua cara sebelumnya, tindak mengisolasikan diri dari dunia sosial memiliki tujuan dasar yang sama, yakni untuk memperdalam kesadaran religius. “Kesunyian”, demikian tulis Wulff, “adalah esensi dari mistisisme” (Wulff, 1999)



Biasanya, orang mengisolasikan diri mereka dari dunia sosial dengan pergi ke gunung, hutan, ataupun gurun. Di tempat-tempat terpencil itu, mereka berdoa dan berkontemplasi hampir sepanjang waktu.



Kajian psikologi agama juga membuktikan, bahwa beberapa di antara orang-orang yang pernah mencoba menarik diri dari dunia sosial akan mengalami halusinasi, depersonalisasi, dan gejolak emosi yang bersifat ekstrem. Jadi, cara ini memang tidak mudah, dan menuntut pengorbanan besar.



Cara terakhir untuk memperoleh pengalaman religius adalah dengan melakuan pengaturan napas secara tepat. Dibarengi dengan mengucapkan beberapa kata dalam ritme yang tetap, proses pengaturan napas bisa membawa manusia ke dalam keadaan ekstase yang dalam arti tertentu bisa meningkatkan kesadaran religiusnya.



Taoisme di Cina sudah lama mengenal cara semacam ini. Para guru Tao melakukan pengaturan napas supaya mereka bisa memperoleh kedekatan dengan alam, dan memperkuat vitalitas tubuh mereka.



Tidak ada satu pun tradisi religius di dunia yang memberikan perhatian besar kepada pengaturan napas, seperti yang ada di dalam tradisi Yoga di India. Para Yoga dan Yogi melakukan meditasi, berkonsentrasi penuh, untuk mendapatkan perasaan harmonis, meningkatkan kesadaran religius, dan mencapai perasaan ekstasis.



Jadi?



Jadi, apakah doa dan pujian kita kepada Tuhan sungguh hanya suatu tindak ‘manipulasi’, atau berangkat dari kerinduan eksistensial kita untuk menyentuh dan mencintai Dia seutuhnya?



Bisakah kita melatih diri kita sendiri, melalui cara-cara yang telah dipaparkan sebelumnya, supaya kita sungguh memperoleh kedekatan denganNya, dan membangun relasi yang tidak asal “meminta”, atau instrumental saja?



Jika hubungan kita dengan Tuhan hanya bersifat instrumental saja, tidak heran bahwa di Indonesia, kemunafikan religius bagaikan duri di dalam daging religiositas manusia yang menusuk dan merusak secara perlahan… tapi pasti!

Read More......

“Silahkan sebar berita buruk tentang saya. Saya tidak peduli selama saya masih tetap kaya”, begitulah tanggapan seorang direktur perusahaan asuransi besar asal Amerika Serikat, ketika dikonfrontasi soal pelanggaran yang dilakukan perusahaannya. Ini dialog di dalam salah satu film yang diputar di stasiun televisi asing. Tentu saja dialog ini fiksi. Akan tetapi cara berpikir yang ada di belakang sang direktur tersebut identik dengan cara berpikir para konglomerat di seluruh dunia; tidak peduli dengan dunia, selama ia masih tetap kaya.

Saya menduga sang direktur tidak sendirian. Ratusan ribu direktur lainnya dari seluruh dunia hidup dan bertindak dengan pola berpikir serupa. Kerakusan adalah sifat yang inheren di dalam diri manusia. Sifat itu tidak akan berkembang, selama struktur sosial tidak mendukung perkembangannya.

Kapitalisme dalam segala bentuknya adalah sistem sosial yang secara langsung mendorong dan melestarikan kerakusan, baik di level individu maupun sosial. Kapitalisme adalah pelembagaan kerakusan. Yang lenyap di dalam kapitalisme adalah relasi yang manusiawi dan solidaritas sebagai komunitas. Relasi digantikan menjadi transaksi.

Seberapapun kita mengutuknya sulit untuk memikirkan dunia tanpa kapitalisme sekarang ini. Kapitalisme sebagai sistem yang mendorong dan melestarikan penumpukan modal sebesar-besarnya sudah berurat akar pada peradaban dunia. Yang bisa dilakukan adalah menggoyang pengandaian-pengandaian yang menjadi dasar dari sistem kapitalisme, yakni tentang apa artinya menjadi komunitas. Komunitas dibentuk melalui solidaritas, dan solidaritas dibentuk di dalam upaya tanpa lelah untuk melampaui kerakusan.

Esensi Kerakusan

Kerakusan itu inheren di dalam diri manusia. Ia tertanam jauh di dalam kemanusiaan setiap orang, dan menunggu untuk keluar serta merangsek yang ada di sekitarnya. Ada dua kondisi hakiki manusia yang menjadi rahim bagi kerakusan, yakni hasrat untuk berkuasa dan rasa kurang yang tertanam di dalam diri setiap orang. Aku rakus maka aku ada, itulah diktum yang menjadi dasar dari sistem kapitalisme.

Lebih dari seratus tahun lalu, Nietzsche mengingatkan kita, bahwa peradaban didorong oleh suatu kekuatan purba yang tersembunyi, yakni kehendak untuk berkuasa. Moralitas dan agama adalah simbol luhur yang menutupi fakta mengerikan di baliknya, yakni kehendak untuk berkuasa. Atas nama moralitas orang menguasai dan menindas. Atas nama agama perang dan penghancuran dilakukan.

Sains dan teknologi adalah hasil ciptaan manusia yang bertujuan untuk menguasai dan mengontrol alam demi kepentingannya sendiri. Retorika kebaikan yang ada di dalam penciptaan dan penerapan teknologi sebenarnya menyembunyikan fakta penghancuran alam yang berkelanjutan. Sains dan teknologi adalah simbol kerakusan manusia yang terselubung, namun sangat ganas. Kedokteran adalah simbol kehendak manusia untuk menguasai kematian.

Kehendak untuk berkuasa tidak hanya tertanam sebagai kekuatan purba pembentuk peradaban, tetapi juga di dalam diri setiap individu. Kehendak untuk berkuasa inilah yang menjadi kondisi-kondisi yang melahirkan tindak rakus di dalam aktivitas sosial manusia. Kehendak untuk berkuasa itu membutakan. Ia membuat manusia melupakan nilai-nilai yang membuat kehidupan itu berarti.

Seorang filsuf asal Perancis, Jacques Lacan, pernah berpendapat, bahwa manusia adalah subyek yang selalu merasa kurang (lack). Jauh di dalam dirinya, manusia terus mencari tanpa pernah sungguh menemukan. Hidupnya bagaikan perjalanan yang tak mengenal kata akhir. Fakta ini mendorong orang untuk menaklukkan, dan menjadi tanah yang subur bagi tumbuhnya kerakusan.

Kapitalisme hidup dan berkembang di dalam pola berpikir penguasaan dan adanya rasa kurang yang tertanam di dalam diri manusia. Kehendak untuk berkuasa dan rasa kurang tersebut menciptakan kecemasan yang sangat mendasar, yakni kecemasan tentang keberadaan dirinya. Dengan pesona materialnya kapitalisme berusaha menenangkan kecemasan tersebut, walaupun selalu jatuh di dalam kegagalan. Inilah awal lahirnya berbagai bentuk kelainan jiwa di dalam masyarakat modern. Kegilaan (madness) lahir dan bertumbuh bersama dengan kapitalisme.

Melampaui Kerakusan

Sejuta kebijakan tidak akan bisa mengubah kerakusan yang bercokol pada diri individu dan masyarakat. Yang sungguh diperlukan adalah perubahan persepsi tentang dunia. Konsep aku (I) tidak bisa lagi dipandang sebagai aku yang terpisah dari kamu dan kalian, melainkan aku sebagai bagian dari kami. Konsep aku adalah konsep sesat yang segera harus direvisi.

Pada level kolektif konsep kita (we) harus diubah menjadi kami (us). Kita itu mengikat yang sama, dan memisahkan yang berbeda. Kekitaan adalah awal dari prasangka, dan prasangka adalah pemicu konflik yang paling efektif. Sementara kami itu ingin memeluk semua. Kami tidak memisahkan melainkan ingin menyatukan diri secara harmonis dengan yang berbeda.

Kekamian lahir dari kesadaran penuh, bahwa manusia saling membutuhkan, lepas dari segala perbedaan yang sudah ada, maupun yang akan ada. Kerakusan mengancam kekamian maka harus dilenyapkan. Masyarakat yang hidup dengan paradigma kekitaan perlahan namun pasti akan lenyap ditelan perubahan jaman. Aku rakus maka aku ada adalah diktum yang mengarah pada perpecahan dan kehancuran. Diktum baru yang menunggu untuk lahir adalah; aku menjadi kami, maka aku ada. Kami ada. ***

Read More......

Sergapan berbagai aksi kekerasan di beberapa wilayah Indonesia yang jauh dari gelora cinta dan hadangan dari gelora alam yang tidak bersahabat, berujung kepada pembedaan antara logika cinta yang baku-sayang dan logika gangster yang baku-bunuh.

Logika berurusan dengan ketepatan bernalar. Contohnya, jika semua benda yang dipanasi memuai, dan ban mobil itu dipanasi dalam perjalanan, maka disimpulkan bahwa, ban mobil itu memuai.

Kalau semua pegawai negeri adalah penerima gaji, dan semua pegawai swasta adalah penerima gaji, maka tidak dapat disimpulkan bahwa pegawai negeri adalah pegawai swasta.

Logika gangster pernah mengguncang New York dan Chicago, melahirkan dan membesarkan sejumlah jawara nomor wahid.

Sebut saja, Dion O`Banion, Johnny Torrio, Al Capone, Joe Masseria, Salvatore Maranzano, Vito Genovese. Ingin menjejak drama demi drama berlumur aksi balas dendam dari "Cosa Nostra", silakan membaca novel garapan Mario Puzo berjudul "The Godfather".

 (gambar-thenightbirdcalls.wordpress.com)

Oknum gangster kala itu mengelola bisnis narkoba, perjudian, pelacuran, dan minuman keras. Mereka menangguk uang sebanyak-banyaknya dengan memeluk seerat-eratnya dogma tujuan menghalalkan cara.

"Cosa Nostra" memahami bahwa pelacuran tampil sebagai profesi tertua di dunia, sementara gangsterisme tampil sebagai profesi kedua tertua sejagat. Gangsterisme anak sah dari logika gangster.

Para kriminolog bersibuk mencari pemicu munculnya gangsterisme kemudian menemukan bahwa para aktor gangster bukanlah iblis tanpa hati.

Mereka manusia yang dapat berbahasa dan berbelas kasih sebagai layaknya manusia. Dengan melakoni hidup di perkampungan kumuh dan pemukiman padat penduduk, plus menelan aneka masalah keluarga, seorang gangster menuntut keadilan paling dasariah yakni mata ganti mata, gigi ganti gigi.

Bagi para gangster, keadilan semata-mata urusan privat. Dan balas dendam terletak di tangan masing-masing orang. Mereka mengajukan pertanyaan, mengapa masyarakat bisa ditipu dan atas dasar apa penipuan itu dijalankan. Orang bisa dikelabui dan ditelanjangi kalau orang itu tidak tahu.

Menurut pengamat filsafat GP Sindhunata SJ dalam bukunya Kambing Hitam, orang bisa dikelabui kalau orang itu tidak tahu dan tidak paham. Pengelabuan menyangkut ketidaktahuan dan ketidakpahaman. Akal-akalan terjadi dalam wilayah kegelapan dan ketidakpastian.

New York dan Chicago dibakar gangster karena orang saat itu diperlakukan sebagai "tikus" yang dapat dibasmi dan dianggap sebagai hewan buruan. Pada 1958, Hong Kong dibayangi aksi keji para gangster. Salah satunya, keluarga pedagang kaya Ko Sun Wei bersama empat anaknya dihabisi seketika di rumahnya di Kowloon. Terletak di antara laut dan dan bebukitan, Hong Kong dikenal sebagai kota padat penduduk.

Apakah logika gangster berkaitan dengan aksi kekerasan di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini? Ironisnya, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di Jalan Ampera Raya, tiga orang meregang nyawa dan sembilan orang mengalami luka-luka.

Ingatan kolektif publik disengat oleh catatan hitam dari aksi baku bunuh di sejumlah wilayah Indonesia.

Harian Kompas mencatat, pada 14 April 2010, penertiban bangunan Gapura Mbak Priok oleh Pemkot Jakarta Utara memicu bentrok antara massa dan satpol PP, 228 terluka dan tiga tewas. Pada 30 Mei, di Duri Kawasan Petir, Cengkareng dan Duri Kosambi, Jakarta Barat, satu orang tewas dalam bentrokan antarkelompok massa akibat tewasnya seorang anggota salah satu ormas.

Nyawa terus raib. Pada 9 Juli, satu orang tewas dan satu terluka dalam bentrokan antara warga Batu Merah Dalam dan batu Merah Kampung, Ambon Maluku. Kerusuhan itu dipicu kecelakaan lalu lintas.

Pada 29 Juli, terjadi bentrokan antara massa jemaah Ahmadiyah di Kuningan Jawa Barat, yang akan dibubarkan ormas Islam lainnya. Pada 26-29 September, lima orang tewas dan empat warga lainnya terluka dalam konflik antaretnis di Tarakan, Kalimantan Timur.

Rentetan aksi dari logika gangster itu jauh dari logika cinta. Bukankah logika cinta dihidupi dari lahan "hormon cinta" yang bisa menginduksi perasaan cinta, rasa percaya, dan kemurahan hati.

Kalau logika cinta memberi sentuhan sederhana dan ringan, seperti usapan, tepukan di pundak, atau pelukan antara teman atau pasangan, maka logika gangster memuat hormon "jarang dibelai atau jarang diusap oleh sesama". Logika cinta menawarkan persahabatan hangat, sementara logika gangster menjajakan dan mengobarkan bara kebencian.

Logika gangster mengejawantah dalam sikap menghabisi sesama karena beranggapan "mereka bukan dari kalangan kita". Logika cinta menawarkan dan menempuh ziarah hiduk "kekitaan" dengan bergandengan tangan, melewati momen persahabatan.

Berbekal logika cinta, remaja dapat leluasa mengkhayalkan buah hatinya dan menghabiskan hari-hari indah dengan mendengar nyanyian burung dekat jendela kamar, atau melewati kebersamaan.

Di mata kepolisian, logika gangster dibaptis sebagai premanisme. Dalam amatan kepolisian, premanisme terkait dengan masalah ekonomi, sosial, dan budaya.

Dilancarkanlah razia kepemilikan senjata. "Kita mungkin mengalami kendala karena kepemilikan senjata tidak bisa dilihat orang per orang," kata Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Ito Sumardi ketika ditemui setelah upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di kompleks Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta.

Sementara Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mengintensifkan operasi pemberantasan premanisme. "Perlu pendekatan lebih khusus secara lintas sektoral," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Pol. Boy Rafli Amar.

Untuk menelanjangi logika gangster dan memberantas premanisme, ada pelajaran dari lintas sejarah dari Revolusi Perancis ketika menghadapi "teror agung" (la grande terreeur). September 1793, Robbespierre membersihkan rakyat Perancis dari semua anasir yang semangatnya dianggap tidak murni.

Atas nama kehendak rakyat, Robbespierre menghukum mati siapa saja yang dicurigai anti revolusi, tanpa melewati proses pengadilan dengan mengandalkan diri kepada logika bahwa kecurigaan rakyat selalu benar. Ujung-ujungnya "la guillotine" berbicara.

Kata didefinisikan oleh kata-kata lain yang maknanya sudah diketahui, misalnya, "lajang adalah orang yang belum menikah". Publik tahu arti kata "lajang", karena sudah tahu arti "menikah". Jika ekspresi bahasa tidak dapat ditelusuri ke pengalaman, maka itulah cara untuk menunjukkan bahwa ekspresi sudah tidak lagi bermakna.

Logika gangster sejatinya merujuk kepada matinya eskpresi berbahasa. Logika gangster bagaikan kata yang hanya mengacu kepada kata (regressi ad finitum), bukan kepada pengalaman keseharian. Ada logika gangster dalam berkata-kata.(Antara)

Read More......